Senja Minggu Itu (part 1)
Bingung. Aku harus bagaimana? Apa lebih baik aku pergi saja ya? Hmmm..
Sudah cukup lama aku duduk diam sendirian seperti orang hilang. Gelisah. Semua orang di sini terlihat asing, aku tidak mengenal mereka sama sekali. Aku ingin pergi. Tapi dia bilang aku harus mengunggu sebentar. Cuma sebentar katanya, tapi ini sudah lewat satu jam. Batang hidungnya saja belum keliatan. Apa ini yang namanya sebentar? Huh. Jangan bercanda.
Terdengar suara motor memasuki halaman parkir. Aku menoleh sebentar untuk melihat siapa yang datang, sembari terus berdoa dalam hati agar dia cepat datang sebelum aku benar-benar mati kesal karena bosan.
“Aduh, maaf El. Lama banget ya ? Hehehehe.’’ Dia akhirnya datang, lengkap dengan butiran peluh di pelipisnya dan bau hangat matahari yang langsung menyeruak masuk ke dalam hidungku.
Sekilas aku melirik jam tangan merah tua di pergelangan tangan kiri ku. “Waow. Aku baru tau kalo definisi kata ‘sebentar‘ sekarang sudah berubah. Menggantikan kata yang dulu kita sebut sebagai ‘lama‘. Iya kan Mas?“
Mas Azhar cuma terkekeh geli, mencoba untuk mengekspresikan perasaan bersalahnya. Dia menggaruk kulit kepala nya yang sama sekali tidak terasa gatal itu lalu duduk di hadapan ku.
“Kamu nggak makan?“
Aku tidak menjawab pertanyaan yang menurutku sangat bodoh itu. Jelas-jelas tidak ada satu pun piring makanan di hadapanku. Yang ada justru beberapa gelas minuman yang sudah kosong dan mulai dihinggapi lalat.
Hening. Sepertinya dia tidak berani menanyaiku yang sudah kepalang kesal ini. Dia cuma duduk diam sambil memainkan kunci motornya. Kentara sekali dia bingung atas sikap ku ini. Bukannya aku kesal, tapi aku sudah bosan berada di tempat ini. Dan Mas Azhar sama sekali tidak menyadari sinyal kebosananku. Hebat sekali.
“Aku tadi ditahan Oki. Dia nggak mau aku cepat-cepat pulang. Kunci motorku juga diumpetin tadi dek. Maaf lah. Jangan ngambek gitu”
“Ya ya ya. Aku ngerti. Udah lah, katanya mau ke pantai. Nggak takut kesorean? Udah jam berapa sekarang mas?” Mas Azhar tersenyum lega. Dia lalu bangkit berdiri dan menyuruhku mengikutinya. Kami keluar dari tempat makan saat itu juga.
---
Perjalanan menuju Pantai Menanti benar-benar luar biasa, maksudku sangat tidak biasa. Benar-benar berbeda dan memacu adrenalin. Jalannya naik turun dan berkelok-kelok, seperti di pegunungan saja. Rasanya aku ingin muntah karena saking seringnya kami berbelok.
Untungnya sepanjang perjalanan Mas Azhar mengajak ku ngobrol ngalor-ngidul. Walaupun obrolan kami kadang tidak nyambung karena terputus-putus hembusan angin disekitar kami. Tapi aku cukup menikmatiya. Jarang-jarang aku bisa tertawa lepas di atas motor. Kalau Mas Azhar tidak mengingatkan aku, mungkin aku sampai lupa keberadaan ku dia atas motor ini. Bisa panjang urusannya kalau aku sampai jatuh cuma gara-gara tertawa kan?
Tiba-tiba motor Mas Azhar berhenti di tengah jalan.
‘’Duh, nggak kuat kayak e dek. Gimana nih.‘’ Benar kan, motor Mas Azhar berhenti karena tanjakan yang terlalu curam.
‘’Lha mas juga aneh sih, udah tau jalan ke pantai Menanti curam banget. Malah pake motor metik. Yowes, aku tak turun aja mas. Jalan bentar nyampe atas deh. Dari pada kenapa-kenapa.’’
Begitu turun dari atas motor, badanku tiba-tiba limbung dan terhuyung ke belakang. Hal ini tentu membuat Mas Azhar kaget dan refleks memegangi pinggang ku agar tidak jatuh. Perlakuannya itu membuatku sedikit kaget.
‘’Nggak papa El? Kamu nggak sakit kan?’’ tanyanya cemas.
‘’Enggak mas, cuma kaget aja nih kayaknya. Ini tanjakan nggak kira-kira yaa, nyaris lurus. Hhehehe.’’
‘’Beneran?”
Aku mengangguk perlahan. Mas Azhar lalu melepaskan pegangannya dari pinggangku dengan kikuk. Rona kemerahan terlihat dikedua pipinya, tapi buru-buru ia tutupi dengan kaca helmnya.
---





