Senja Minggu Itu (part 1)



Bingung. Aku harus bagaimana? Apa lebih baik aku pergi saja ya? Hmmm..
Sudah cukup lama aku duduk diam sendirian seperti orang hilang. Gelisah. Semua orang di sini terlihat asing, aku tidak mengenal mereka sama sekali. Aku ingin pergi. Tapi dia bilang aku harus mengunggu sebentar. Cuma sebentar katanya, tapi ini sudah lewat satu jam. Batang hidungnya saja belum keliatan. Apa ini yang namanya sebentar? Huh. Jangan bercanda.
Terdengar suara motor memasuki halaman parkir. Aku menoleh sebentar untuk melihat siapa yang datang, sembari terus berdoa dalam hati agar dia cepat datang sebelum aku benar-benar mati kesal karena bosan.
“Aduh, maaf El. Lama banget ya ? Hehehehe.’’ Dia akhirnya datang, lengkap dengan butiran peluh di pelipisnya dan bau hangat matahari yang langsung menyeruak masuk ke dalam hidungku.
Sekilas aku melirik jam tangan merah tua di pergelangan tangan kiri ku. “Waow. Aku baru tau kalo definisi kata ‘sebentar‘ sekarang sudah berubah. Menggantikan kata yang dulu kita sebut sebagai ‘lama‘. Iya kan Mas?“
Mas Azhar cuma terkekeh geli, mencoba untuk mengekspresikan perasaan bersalahnya. Dia menggaruk kulit kepala nya yang sama sekali tidak terasa gatal itu lalu duduk di hadapan ku.
“Kamu nggak makan?“
Aku tidak menjawab pertanyaan yang menurutku sangat bodoh itu. Jelas-jelas tidak ada satu pun piring makanan di hadapanku. Yang ada justru beberapa gelas minuman yang sudah kosong dan mulai dihinggapi lalat.
Hening. Sepertinya dia tidak berani menanyaiku yang sudah kepalang kesal ini. Dia cuma duduk diam sambil memainkan kunci motornya. Kentara sekali dia bingung atas sikap ku ini. Bukannya aku kesal, tapi aku sudah bosan berada di tempat ini. Dan Mas Azhar sama sekali tidak menyadari sinyal kebosananku. Hebat sekali.
“Aku tadi ditahan Oki. Dia nggak mau aku cepat-cepat pulang. Kunci motorku juga diumpetin tadi dek. Maaf lah. Jangan ngambek gitu”
“Ya ya ya. Aku ngerti. Udah lah, katanya mau ke pantai. Nggak takut kesorean? Udah jam berapa sekarang mas?” Mas Azhar tersenyum lega. Dia lalu bangkit berdiri dan menyuruhku mengikutinya. Kami keluar dari tempat makan saat itu juga.

---

Perjalanan menuju Pantai Menanti benar-benar luar biasa, maksudku sangat tidak biasa. Benar-benar berbeda dan memacu adrenalin. Jalannya naik turun dan berkelok-kelok, seperti di pegunungan saja. Rasanya aku ingin muntah karena saking seringnya kami berbelok.
Untungnya sepanjang perjalanan Mas Azhar mengajak ku ngobrol ngalor-ngidul. Walaupun obrolan kami kadang tidak nyambung karena terputus-putus hembusan angin disekitar kami. Tapi aku cukup menikmatiya. Jarang-jarang aku bisa tertawa lepas di atas motor. Kalau Mas  Azhar tidak mengingatkan aku, mungkin aku sampai lupa keberadaan ku dia atas motor ini. Bisa panjang urusannya kalau aku sampai jatuh cuma gara-gara tertawa kan?
Tiba-tiba motor Mas Azhar berhenti di tengah jalan.
‘’Duh, nggak kuat kayak e dek. Gimana nih.‘’ Benar kan, motor Mas Azhar berhenti karena tanjakan yang terlalu curam.
‘’Lha mas juga aneh sih, udah tau jalan ke pantai Menanti curam banget. Malah pake motor  metik. Yowes, aku tak turun aja mas. Jalan bentar nyampe atas deh. Dari pada kenapa-kenapa.’’
Begitu turun dari atas motor, badanku tiba-tiba limbung dan terhuyung ke belakang. Hal ini tentu membuat Mas Azhar kaget dan refleks memegangi pinggang ku agar tidak jatuh. Perlakuannya itu membuatku sedikit kaget.
‘’Nggak papa El? Kamu nggak sakit kan?’’ tanyanya cemas.
‘’Enggak mas, cuma kaget aja nih kayaknya. Ini tanjakan nggak kira-kira yaa, nyaris lurus. Hhehehe.’’
‘’Beneran?”
Aku mengangguk perlahan. Mas Azhar lalu melepaskan pegangannya dari pinggangku dengan kikuk. Rona kemerahan terlihat dikedua pipinya, tapi buru-buru ia tutupi dengan kaca helmnya.
---

Read Users' Comments (0)

Lukisan Paling Indah


Tidak ada alasan yang mampu membuat ia beranjak dari tempatnya duduk saat ini. Walau terang siang berangsur memudar seiring dengan suasana sekolah yang perlahan menyepi. Ia tetap ada di tempatnya, tidak terusik oleh orang-orang yang lalu lalang melewatinya.
Bel tanda berakhirnya jam sekolah hari ini sudah berbunyi, sekitar dua jam yang lalu. Kebanyakan dari teman-temannya menyudahi rutinitas mereka di sekolah secepat yang mereka bisa. Tidak heran kalau hiruk-pikuk mereka tidak lagi terdengar. Mungkin ada beberapa orang yang masih ingin menghabiskan sore bersama-sama di sekolah. Tapi itu tidak mengubah suasana sepi sore ini.
Sama seperti sore-sore sebelumnya, Ibby memilih untuk pulang ke rumah sedikit molor dari jam pulang sekolah yang semestinya. Dia tidak ingin melewatkan lukisan paling menakjubkan di sekolah tempatnya belajar selama hampir dua tahun ini. Karya Tuhan yang paling menarik hati, menurutnya
Sembari menunggu lukisan paling indah itu, Ibby menyempatkan diri untuk membaca novel fiksi ilmiah yang tadi pagi sempat ia pinjam dari perpustakaan sekolah. Matanya merem melek saat membaca novel itu. Ia menggigiti bibir bawahnya karena terbawa suasana mencekam dalam novel itu.
Ah, kayaknya aku salah milih deh. Gumam Ibby seraya membolak-balik halaman demi halaman begitu saja. Akhirnya dia memutuskan untuk menyudahi kegiatan membaca novel yang menurutnya terlalu sadis itu.
Ibby menghela napas, panjang dan berat. Ia tahu sudah saatnya dia pulang ke rumah. Kepalanya mulai terasa pening karena lelah seharian bergumul dengan pelajaran-pelajaran menyebalkan, macam matematika dan akuntansi.
Tapi ia memaksa tubuhnya untuk tetap duduk di bangku kuning, tempat favorit Ibby. Bangku kuning terletak di depan ruang redaksi majalah sekolah. Bangku tua yang terbuat dari kayu itu dinamai Bangku Kuning karena memang cat kayu nya berwarna kuning. Bukan warna kuning biasa tapi kuning neon yang silau dipandang.
Bangku Kuning adalah tempat kesukaan banyak orang di sekolah Ibby. Karena letaknya yang strategis dan suasana nya yang teduh dipayungi oleh rimbun dedaun pohon mangga milik sekolah. Banyak orang yang sering menghabiskan waktu untuk sekedar mengobrol di Bangku Kuning saat jam istirahat. Atau ada juga yang menjadikan bangku kuning sebagai tempat tidur siang paling nyaman setelah seharian memeras otak.
Untuk Ibby sendiri, bangku kuning merupakan tempatnya mencari inspirasi dan menyindiri. Ada banyak hal yang bisa menginspirasi Ibby untuk menulis lagi saat ia duduk sendiri dibangku kuning. Letak bangku kuning yang berhadapan langsung dengan lapangan basket sekolah yang selalu ramai dikunjungi, menyuguhkan sejuta inspirasi baru. Ide-ide gila sebagai bahan menulisnya pun muncul secepat kilat. Bahkan membludak di kepala sampai terkadang Ibby tidak mampu menahan hasrat menulisnya yang menggebu-gebu.
Ada yang berbeda saat pandangan mata Ibby tertuju pada hal itu, lukisan paling indah yang sedari tadi dinanti-nantinya. Ibby mengacuhkan segalanya begitu saja. Ia lalu mengatur posisi duduknya senyaman mungkin. Mengangkat kedua kakinya, lalu mendekapnya erat. Ibby terseyum-senyum sendiri. Ia membenamkan wajahnya karena malu dan tersipu.
Sesesok lelaki tinggi tegap muncul sembari membuka pintu ruangan yang berseberangan langsung dengan bangku kuning. Walau mereka dibatasi lapangan basket yang luas, mata Ibby masih bisa menangkap sosok yang selalu ia perhatikan selama sebulan terakhir ini dengan jelas. Lelaki berkacamata itu lantas duduk dimulut pintu ruangan sambil membuka-buka buku yang tidak jelas wujudnya. Selang beberapa menit, tampak beberapa orang lain berbondong-bondong keluar dari ruangan itu. Ruang yang biasa digunakan para pengurus OSIS.
‘’By, ngapain? Kamu pasti ngeliatin dia lagi ya? Ya ampun.“ Suara cempreng tiba-tiba terdengar ditelinga Ibby. Karena kaget, Ibby refleks berdiri.
“E eng enggak kok. Aku baru mau pulang. Bareng yuk.“ Gelagapan, Ibby lalu buru-buru membereskan tasnya dan menarik si empunya suara cempreng itu pergi jauh-jauh. Jangan sampai dia ikut mengagumi lukisan paling indah! Jangan sampai! Gumamnya mantap.
Semburat kegembiraan menghiasi wajah mungil Ibby. Ia berlari-lari ringan menuju gerbang sekolah sembari mengobrol dengan si cempreng. Sesekali matanya melirik ke seberang, seolah mengucapkan salam perpisahan.
Sore sudah mulai menjingga. Semilir angin malam pun makin jelas terasa kehadirannya. Lelaki itu ganti menatap bangku kuning lekat-lekat, seolah berusaha mencari tahu sesuatu. Tak lama ia bangkit berdiri dan memutuskan untuk segera pulang. Sekolah benar-benear sepi sekarang.

Read Users' Comments (0)

Putih Biru



Bingung. Aku harus bagaimana? Apa lebih baik aku pergi saja ya? Hmmm..
Sudah cukup lama aku duduk diam sendirian seperti orang hilang. Gelisah. Semua orang di sini terlihat asing, aku tidak mengenal mereka sama sekali. Aku ingin pergi. Tapi dia bilang aku harus mengunggu sebentar. Cuma sebentar katanya, tapi ini sudah lewat satu jam. Batang hidungnya saja belum keliatan. Apa ini yang namanya sebentar? Huh. Jangan bercanda.
Terdengar suara motor memasuki halaman parkir. Aku menoleh sebentar untuk melihat siapa yang datang, sembari terus berdoa dalam hati agar dia cepat datang sebelum aku benar-benar mati kesal karena bosan.
“Aduh, maaf El. Lama banget ya ? Hehehehe.’’ Dia akhirnya datang, lengkap dengan butiran peluh di pelipisnya dan bau hangat matahari yang langsung menyeruak masuk ke dalam hidungku.
Sekilas aku melirik jam tangan merah tua di pergelangan tangan kiri ku. “Waow. Aku baru tau kalo definisi kata ‘sebentar‘ sekarang sudah berubah. Menggantikan kata yang dulu kita sebut sebagai ‘lama‘. Iya kan Mas?“
Mas Azhar cuma terkekeh geli, mencoba untuk mengekspresikan perasaan bersalahnya. Dia menggaruk kulit kepala nya yang sama sekali tidak terasa gatal itu lalu duduk di hadapan ku.
“Kamu nggak makan?“
Aku tidak menjawab pertanyaan yang menurutku sangat bodoh itu. Jelas-jelas tidak ada satu pun piring makanan di hadapanku. Yang ada justru beberapa gelas minuman yang sudah kosong dan mulai dihinggapi lalat.
Hening. Sepertinya dia tidak berani menanyaiku yang sudah kepalang kesal ini. Dia cuma duduk diam sambil memainkan kunci motornya. Kentara sekali dia bingung atas sikap ku ini. Bukannya aku kesal, tapi aku sudah bosan berada di tempat ini. Dan Mas Azhar sama sekali tidak menyadari sinyal kebosananku. Hebat sekali.
“Aku tadi ditahan Oki. Dia nggak mau aku cepat-cepat pulang. Kunci motorku juga diumpetin tadi dek. Maaf lah. Jangan ngambek gitu”
“Ya ya ya. Aku ngerti. Udah lah, katanya mau ke pantai. Nggak takut kesorean? Udah jam berapa sekarang mas?” Mas Azhar tersenyum lega. Dia lalu bangkit berdiri dan menyuruhku mengikutinya. Kami keluar dari tempat makan saat itu juga.

---

Perjalanan menuju Pantai Menanti benar-benar luar biasa, maksudku sangat tidak biasa. Benar-benar berbeda dan memacu adrenalin. Jalannya naik turun dan berkelok-kelok, seperti di pegunungan saja. Rasanya aku ingin muntah karena saking seringnya kami berbelok.
Untungnya sepanjang perjalanan Mas Azhar mengajak ku ngobrol ngalor-ngidul. Walaupun obrolan kami kadang tidak nyambung karena terputus-putus hembusan angin disekitar kami. Tapi aku cukup menikmatiya. Jarang-jarang aku bisa tertawa lepas di atas motor. Kalau Mas  Azhar tidak mengingatkan aku, mungkin aku sampai lupa keberadaan ku dia atas motor ini. Bisa panjang urusannya kalau aku sampai jatuh cuma gara-gara tertawa kan?
Tiba-tiba motor Mas Azhar berhenti di tengah jalan.
‘’Duh, nggak kuat kayak e dek. Gimana nih.‘’ Benar kan, motor Mas Azhar berhenti karena tanjakan yang terlalu curam.
‘’Lha mas juga aneh sih, udah tau jalan ke pantai Menanti curam banget. Malah pake motor  metik. Yowes, aku tak turun aja mas. Jalan bentar nyampe atas deh. Dari pada kenapa-kenapa.’’
Begitu turun dari atas motor, badanku tiba-tiba limbung dan terhuyung ke belakang. Hal ini tentu membuat Mas Azhar kaget dan refleks memegangi pinggang ku agar tidak jatuh. Perlakuannya itu membuatku sedikit kaget.
‘’Nggak papa El? Kamu nggak sakit kan?’’ tanyanya cemas.
‘’Enggak mas, cuma kaget aja nih kayaknya. Ini tanjakan nggak kira-kira yaa, nyaris lurus. Hhehehe.’’
‘’Beneran?”
Aku mengangguk perlahan. Mas Azhar lalu melepaskan pegangannya dari pinggangku dengan kikuk. Rona kemerahan terlihat dikedua pipinya, tapi buru-buru ia tutupi dengan kaca helmnya.
---

Read Users' Comments (0)

How It Ends

Sometimes, i ask my own self how can I through all of those matters, alone.
and the answer is because i knew i can resolve all those things mattered.
I KNOW I CAN

Read Users' Comments (0)

The Thing

I can hardly believe it lately. i was thinking the matter i'd forget!
Unimportant thing, imperfect thing, ridiculous thing, anything.YOU.
this is all wrong, but you're not a fault. You are just 'The Thing'? Aren't you?
i feel the butterfly inside my stomach when i look at you. 
all i wanna heard is your voice.
worrying, crying, laughing, smiling, all because of you.
and i just wanna sing a 'menye2' songs, i mean a 'feeling of falling in love' songs.
You've chanced me a lot.
but, who are you? you are just 'The Thing'.
why do you influence me in so many ways?
i keep my head heel high, you are just 'The Thing'. is you?

Read Users' Comments (0)

Di Persimpangan Jalan.

Sudah genap satu tahun mungkin. Aku dan kamu bukan lagi kita. Ternyata tanpa kamu atau siapa pun yang mampir di otak ku, hari-hari layaknya murid biasa tak lagi sungkan menghampiriku.
Murid biasa. Yang datang ke sekolah, berkompetisi diatas kertas, berfikir keras demi kelanjutan 'yang terbaik', dan bergulat dengan manusia segudang mimpi yang lain. Anak SMA.
Jalanku berbelok ke kanan, dan milikmu memutar ke kiri. Tidak ada persimpanan yang bisa mempertemukan kita. Toh, aku juga tidk menginginkannya. Mauku lurus, tepat, dan akurat. Sedangkan mau mu? Aku sangat paham keinginanmu untuk menjelajah tiap detail persimpangan baru. Tanpa perhitungan, tanpa tujuan, kamu sebut itu berpetualang.
Hei kamu, aku tau mana persimpangan yang sedang kamu singgahi. Lagi-lagi kamu mencoba hal 'ajaib' dengan nya. Berpetualang.
Kamu tau, saat ini aku masih di belokan kanan milikku. Walau jalan yang aku buat, lurus dan akurat, bukan berarti tak ada batu ditengahnya. Ada banyak malah.
Lurus, berbatu, tiba-tiba ada yg membuatku berhenti. Menengok lebih lama dari siapa juga. Dia.
Akhirnya, aku tau itu bukan kamu. Dia berbeda dan tak akan pernah sama. Tapi tak pernah terasa nyata. Apa aku salah? Dia aneh melebihi aku yang luar biasa ini.
Mauku sekarang, dia berbelok ke arahku. Dan kami bertemu diujung persimpangan sana.

Read Users' Comments (0)

Dari Sini Saja - Pemerhatimu

Kamu tau? Sinar wajahmu pagi itu mengalahkan nyala sempurna matahari.
Kamu tau? Renyah tawa mu itu asal senyumku pagi ini.
Kamu tau? Aku datang sepagi ini, tepat pukul setengah7. Untuk duamenit kita. Hanya ada kamu dan aku berseberangan.
Kamu tau? Ada sepasang mata intens melihat gerikmu. Mengagumimu. Tanpa bicara sepatah kata pula.

Read Users' Comments (0)

Selasa, 22 Maret 2011

Senja Minggu Itu (part 1)

0 komentar


Bingung. Aku harus bagaimana? Apa lebih baik aku pergi saja ya? Hmmm..
Sudah cukup lama aku duduk diam sendirian seperti orang hilang. Gelisah. Semua orang di sini terlihat asing, aku tidak mengenal mereka sama sekali. Aku ingin pergi. Tapi dia bilang aku harus mengunggu sebentar. Cuma sebentar katanya, tapi ini sudah lewat satu jam. Batang hidungnya saja belum keliatan. Apa ini yang namanya sebentar? Huh. Jangan bercanda.
Terdengar suara motor memasuki halaman parkir. Aku menoleh sebentar untuk melihat siapa yang datang, sembari terus berdoa dalam hati agar dia cepat datang sebelum aku benar-benar mati kesal karena bosan.
“Aduh, maaf El. Lama banget ya ? Hehehehe.’’ Dia akhirnya datang, lengkap dengan butiran peluh di pelipisnya dan bau hangat matahari yang langsung menyeruak masuk ke dalam hidungku.
Sekilas aku melirik jam tangan merah tua di pergelangan tangan kiri ku. “Waow. Aku baru tau kalo definisi kata ‘sebentar‘ sekarang sudah berubah. Menggantikan kata yang dulu kita sebut sebagai ‘lama‘. Iya kan Mas?“
Mas Azhar cuma terkekeh geli, mencoba untuk mengekspresikan perasaan bersalahnya. Dia menggaruk kulit kepala nya yang sama sekali tidak terasa gatal itu lalu duduk di hadapan ku.
“Kamu nggak makan?“
Aku tidak menjawab pertanyaan yang menurutku sangat bodoh itu. Jelas-jelas tidak ada satu pun piring makanan di hadapanku. Yang ada justru beberapa gelas minuman yang sudah kosong dan mulai dihinggapi lalat.
Hening. Sepertinya dia tidak berani menanyaiku yang sudah kepalang kesal ini. Dia cuma duduk diam sambil memainkan kunci motornya. Kentara sekali dia bingung atas sikap ku ini. Bukannya aku kesal, tapi aku sudah bosan berada di tempat ini. Dan Mas Azhar sama sekali tidak menyadari sinyal kebosananku. Hebat sekali.
“Aku tadi ditahan Oki. Dia nggak mau aku cepat-cepat pulang. Kunci motorku juga diumpetin tadi dek. Maaf lah. Jangan ngambek gitu”
“Ya ya ya. Aku ngerti. Udah lah, katanya mau ke pantai. Nggak takut kesorean? Udah jam berapa sekarang mas?” Mas Azhar tersenyum lega. Dia lalu bangkit berdiri dan menyuruhku mengikutinya. Kami keluar dari tempat makan saat itu juga.

---

Perjalanan menuju Pantai Menanti benar-benar luar biasa, maksudku sangat tidak biasa. Benar-benar berbeda dan memacu adrenalin. Jalannya naik turun dan berkelok-kelok, seperti di pegunungan saja. Rasanya aku ingin muntah karena saking seringnya kami berbelok.
Untungnya sepanjang perjalanan Mas Azhar mengajak ku ngobrol ngalor-ngidul. Walaupun obrolan kami kadang tidak nyambung karena terputus-putus hembusan angin disekitar kami. Tapi aku cukup menikmatiya. Jarang-jarang aku bisa tertawa lepas di atas motor. Kalau Mas  Azhar tidak mengingatkan aku, mungkin aku sampai lupa keberadaan ku dia atas motor ini. Bisa panjang urusannya kalau aku sampai jatuh cuma gara-gara tertawa kan?
Tiba-tiba motor Mas Azhar berhenti di tengah jalan.
‘’Duh, nggak kuat kayak e dek. Gimana nih.‘’ Benar kan, motor Mas Azhar berhenti karena tanjakan yang terlalu curam.
‘’Lha mas juga aneh sih, udah tau jalan ke pantai Menanti curam banget. Malah pake motor  metik. Yowes, aku tak turun aja mas. Jalan bentar nyampe atas deh. Dari pada kenapa-kenapa.’’
Begitu turun dari atas motor, badanku tiba-tiba limbung dan terhuyung ke belakang. Hal ini tentu membuat Mas Azhar kaget dan refleks memegangi pinggang ku agar tidak jatuh. Perlakuannya itu membuatku sedikit kaget.
‘’Nggak papa El? Kamu nggak sakit kan?’’ tanyanya cemas.
‘’Enggak mas, cuma kaget aja nih kayaknya. Ini tanjakan nggak kira-kira yaa, nyaris lurus. Hhehehe.’’
‘’Beneran?”
Aku mengangguk perlahan. Mas Azhar lalu melepaskan pegangannya dari pinggangku dengan kikuk. Rona kemerahan terlihat dikedua pipinya, tapi buru-buru ia tutupi dengan kaca helmnya.
---

Lukisan Paling Indah

0 komentar

Tidak ada alasan yang mampu membuat ia beranjak dari tempatnya duduk saat ini. Walau terang siang berangsur memudar seiring dengan suasana sekolah yang perlahan menyepi. Ia tetap ada di tempatnya, tidak terusik oleh orang-orang yang lalu lalang melewatinya.
Bel tanda berakhirnya jam sekolah hari ini sudah berbunyi, sekitar dua jam yang lalu. Kebanyakan dari teman-temannya menyudahi rutinitas mereka di sekolah secepat yang mereka bisa. Tidak heran kalau hiruk-pikuk mereka tidak lagi terdengar. Mungkin ada beberapa orang yang masih ingin menghabiskan sore bersama-sama di sekolah. Tapi itu tidak mengubah suasana sepi sore ini.
Sama seperti sore-sore sebelumnya, Ibby memilih untuk pulang ke rumah sedikit molor dari jam pulang sekolah yang semestinya. Dia tidak ingin melewatkan lukisan paling menakjubkan di sekolah tempatnya belajar selama hampir dua tahun ini. Karya Tuhan yang paling menarik hati, menurutnya
Sembari menunggu lukisan paling indah itu, Ibby menyempatkan diri untuk membaca novel fiksi ilmiah yang tadi pagi sempat ia pinjam dari perpustakaan sekolah. Matanya merem melek saat membaca novel itu. Ia menggigiti bibir bawahnya karena terbawa suasana mencekam dalam novel itu.
Ah, kayaknya aku salah milih deh. Gumam Ibby seraya membolak-balik halaman demi halaman begitu saja. Akhirnya dia memutuskan untuk menyudahi kegiatan membaca novel yang menurutnya terlalu sadis itu.
Ibby menghela napas, panjang dan berat. Ia tahu sudah saatnya dia pulang ke rumah. Kepalanya mulai terasa pening karena lelah seharian bergumul dengan pelajaran-pelajaran menyebalkan, macam matematika dan akuntansi.
Tapi ia memaksa tubuhnya untuk tetap duduk di bangku kuning, tempat favorit Ibby. Bangku kuning terletak di depan ruang redaksi majalah sekolah. Bangku tua yang terbuat dari kayu itu dinamai Bangku Kuning karena memang cat kayu nya berwarna kuning. Bukan warna kuning biasa tapi kuning neon yang silau dipandang.
Bangku Kuning adalah tempat kesukaan banyak orang di sekolah Ibby. Karena letaknya yang strategis dan suasana nya yang teduh dipayungi oleh rimbun dedaun pohon mangga milik sekolah. Banyak orang yang sering menghabiskan waktu untuk sekedar mengobrol di Bangku Kuning saat jam istirahat. Atau ada juga yang menjadikan bangku kuning sebagai tempat tidur siang paling nyaman setelah seharian memeras otak.
Untuk Ibby sendiri, bangku kuning merupakan tempatnya mencari inspirasi dan menyindiri. Ada banyak hal yang bisa menginspirasi Ibby untuk menulis lagi saat ia duduk sendiri dibangku kuning. Letak bangku kuning yang berhadapan langsung dengan lapangan basket sekolah yang selalu ramai dikunjungi, menyuguhkan sejuta inspirasi baru. Ide-ide gila sebagai bahan menulisnya pun muncul secepat kilat. Bahkan membludak di kepala sampai terkadang Ibby tidak mampu menahan hasrat menulisnya yang menggebu-gebu.
Ada yang berbeda saat pandangan mata Ibby tertuju pada hal itu, lukisan paling indah yang sedari tadi dinanti-nantinya. Ibby mengacuhkan segalanya begitu saja. Ia lalu mengatur posisi duduknya senyaman mungkin. Mengangkat kedua kakinya, lalu mendekapnya erat. Ibby terseyum-senyum sendiri. Ia membenamkan wajahnya karena malu dan tersipu.
Sesesok lelaki tinggi tegap muncul sembari membuka pintu ruangan yang berseberangan langsung dengan bangku kuning. Walau mereka dibatasi lapangan basket yang luas, mata Ibby masih bisa menangkap sosok yang selalu ia perhatikan selama sebulan terakhir ini dengan jelas. Lelaki berkacamata itu lantas duduk dimulut pintu ruangan sambil membuka-buka buku yang tidak jelas wujudnya. Selang beberapa menit, tampak beberapa orang lain berbondong-bondong keluar dari ruangan itu. Ruang yang biasa digunakan para pengurus OSIS.
‘’By, ngapain? Kamu pasti ngeliatin dia lagi ya? Ya ampun.“ Suara cempreng tiba-tiba terdengar ditelinga Ibby. Karena kaget, Ibby refleks berdiri.
“E eng enggak kok. Aku baru mau pulang. Bareng yuk.“ Gelagapan, Ibby lalu buru-buru membereskan tasnya dan menarik si empunya suara cempreng itu pergi jauh-jauh. Jangan sampai dia ikut mengagumi lukisan paling indah! Jangan sampai! Gumamnya mantap.
Semburat kegembiraan menghiasi wajah mungil Ibby. Ia berlari-lari ringan menuju gerbang sekolah sembari mengobrol dengan si cempreng. Sesekali matanya melirik ke seberang, seolah mengucapkan salam perpisahan.
Sore sudah mulai menjingga. Semilir angin malam pun makin jelas terasa kehadirannya. Lelaki itu ganti menatap bangku kuning lekat-lekat, seolah berusaha mencari tahu sesuatu. Tak lama ia bangkit berdiri dan memutuskan untuk segera pulang. Sekolah benar-benear sepi sekarang.

Putih Biru

0 komentar


Bingung. Aku harus bagaimana? Apa lebih baik aku pergi saja ya? Hmmm..
Sudah cukup lama aku duduk diam sendirian seperti orang hilang. Gelisah. Semua orang di sini terlihat asing, aku tidak mengenal mereka sama sekali. Aku ingin pergi. Tapi dia bilang aku harus mengunggu sebentar. Cuma sebentar katanya, tapi ini sudah lewat satu jam. Batang hidungnya saja belum keliatan. Apa ini yang namanya sebentar? Huh. Jangan bercanda.
Terdengar suara motor memasuki halaman parkir. Aku menoleh sebentar untuk melihat siapa yang datang, sembari terus berdoa dalam hati agar dia cepat datang sebelum aku benar-benar mati kesal karena bosan.
“Aduh, maaf El. Lama banget ya ? Hehehehe.’’ Dia akhirnya datang, lengkap dengan butiran peluh di pelipisnya dan bau hangat matahari yang langsung menyeruak masuk ke dalam hidungku.
Sekilas aku melirik jam tangan merah tua di pergelangan tangan kiri ku. “Waow. Aku baru tau kalo definisi kata ‘sebentar‘ sekarang sudah berubah. Menggantikan kata yang dulu kita sebut sebagai ‘lama‘. Iya kan Mas?“
Mas Azhar cuma terkekeh geli, mencoba untuk mengekspresikan perasaan bersalahnya. Dia menggaruk kulit kepala nya yang sama sekali tidak terasa gatal itu lalu duduk di hadapan ku.
“Kamu nggak makan?“
Aku tidak menjawab pertanyaan yang menurutku sangat bodoh itu. Jelas-jelas tidak ada satu pun piring makanan di hadapanku. Yang ada justru beberapa gelas minuman yang sudah kosong dan mulai dihinggapi lalat.
Hening. Sepertinya dia tidak berani menanyaiku yang sudah kepalang kesal ini. Dia cuma duduk diam sambil memainkan kunci motornya. Kentara sekali dia bingung atas sikap ku ini. Bukannya aku kesal, tapi aku sudah bosan berada di tempat ini. Dan Mas Azhar sama sekali tidak menyadari sinyal kebosananku. Hebat sekali.
“Aku tadi ditahan Oki. Dia nggak mau aku cepat-cepat pulang. Kunci motorku juga diumpetin tadi dek. Maaf lah. Jangan ngambek gitu”
“Ya ya ya. Aku ngerti. Udah lah, katanya mau ke pantai. Nggak takut kesorean? Udah jam berapa sekarang mas?” Mas Azhar tersenyum lega. Dia lalu bangkit berdiri dan menyuruhku mengikutinya. Kami keluar dari tempat makan saat itu juga.

---

Perjalanan menuju Pantai Menanti benar-benar luar biasa, maksudku sangat tidak biasa. Benar-benar berbeda dan memacu adrenalin. Jalannya naik turun dan berkelok-kelok, seperti di pegunungan saja. Rasanya aku ingin muntah karena saking seringnya kami berbelok.
Untungnya sepanjang perjalanan Mas Azhar mengajak ku ngobrol ngalor-ngidul. Walaupun obrolan kami kadang tidak nyambung karena terputus-putus hembusan angin disekitar kami. Tapi aku cukup menikmatiya. Jarang-jarang aku bisa tertawa lepas di atas motor. Kalau Mas  Azhar tidak mengingatkan aku, mungkin aku sampai lupa keberadaan ku dia atas motor ini. Bisa panjang urusannya kalau aku sampai jatuh cuma gara-gara tertawa kan?
Tiba-tiba motor Mas Azhar berhenti di tengah jalan.
‘’Duh, nggak kuat kayak e dek. Gimana nih.‘’ Benar kan, motor Mas Azhar berhenti karena tanjakan yang terlalu curam.
‘’Lha mas juga aneh sih, udah tau jalan ke pantai Menanti curam banget. Malah pake motor  metik. Yowes, aku tak turun aja mas. Jalan bentar nyampe atas deh. Dari pada kenapa-kenapa.’’
Begitu turun dari atas motor, badanku tiba-tiba limbung dan terhuyung ke belakang. Hal ini tentu membuat Mas Azhar kaget dan refleks memegangi pinggang ku agar tidak jatuh. Perlakuannya itu membuatku sedikit kaget.
‘’Nggak papa El? Kamu nggak sakit kan?’’ tanyanya cemas.
‘’Enggak mas, cuma kaget aja nih kayaknya. Ini tanjakan nggak kira-kira yaa, nyaris lurus. Hhehehe.’’
‘’Beneran?”
Aku mengangguk perlahan. Mas Azhar lalu melepaskan pegangannya dari pinggangku dengan kikuk. Rona kemerahan terlihat dikedua pipinya, tapi buru-buru ia tutupi dengan kaca helmnya.
---

Senin, 03 Januari 2011

How It Ends

0 komentar
Sometimes, i ask my own self how can I through all of those matters, alone.
and the answer is because i knew i can resolve all those things mattered.
I KNOW I CAN

Selasa, 28 Desember 2010

The Thing

0 komentar
I can hardly believe it lately. i was thinking the matter i'd forget!
Unimportant thing, imperfect thing, ridiculous thing, anything.YOU.
this is all wrong, but you're not a fault. You are just 'The Thing'? Aren't you?
i feel the butterfly inside my stomach when i look at you. 
all i wanna heard is your voice.
worrying, crying, laughing, smiling, all because of you.
and i just wanna sing a 'menye2' songs, i mean a 'feeling of falling in love' songs.
You've chanced me a lot.
but, who are you? you are just 'The Thing'.
why do you influence me in so many ways?
i keep my head heel high, you are just 'The Thing'. is you?

Jumat, 03 Desember 2010

Di Persimpangan Jalan.

0 komentar
Sudah genap satu tahun mungkin. Aku dan kamu bukan lagi kita. Ternyata tanpa kamu atau siapa pun yang mampir di otak ku, hari-hari layaknya murid biasa tak lagi sungkan menghampiriku.
Murid biasa. Yang datang ke sekolah, berkompetisi diatas kertas, berfikir keras demi kelanjutan 'yang terbaik', dan bergulat dengan manusia segudang mimpi yang lain. Anak SMA.
Jalanku berbelok ke kanan, dan milikmu memutar ke kiri. Tidak ada persimpanan yang bisa mempertemukan kita. Toh, aku juga tidk menginginkannya. Mauku lurus, tepat, dan akurat. Sedangkan mau mu? Aku sangat paham keinginanmu untuk menjelajah tiap detail persimpangan baru. Tanpa perhitungan, tanpa tujuan, kamu sebut itu berpetualang.
Hei kamu, aku tau mana persimpangan yang sedang kamu singgahi. Lagi-lagi kamu mencoba hal 'ajaib' dengan nya. Berpetualang.
Kamu tau, saat ini aku masih di belokan kanan milikku. Walau jalan yang aku buat, lurus dan akurat, bukan berarti tak ada batu ditengahnya. Ada banyak malah.
Lurus, berbatu, tiba-tiba ada yg membuatku berhenti. Menengok lebih lama dari siapa juga. Dia.
Akhirnya, aku tau itu bukan kamu. Dia berbeda dan tak akan pernah sama. Tapi tak pernah terasa nyata. Apa aku salah? Dia aneh melebihi aku yang luar biasa ini.
Mauku sekarang, dia berbelok ke arahku. Dan kami bertemu diujung persimpangan sana.

Dari Sini Saja - Pemerhatimu

0 komentar
Kamu tau? Sinar wajahmu pagi itu mengalahkan nyala sempurna matahari.
Kamu tau? Renyah tawa mu itu asal senyumku pagi ini.
Kamu tau? Aku datang sepagi ini, tepat pukul setengah7. Untuk duamenit kita. Hanya ada kamu dan aku berseberangan.
Kamu tau? Ada sepasang mata intens melihat gerikmu. Mengagumimu. Tanpa bicara sepatah kata pula.